Langsung ke konten utama

POHON

 Karena, bila kau tak menginginkan jiwaku ini,

Mungkin temu nanti tak akan terjadi setelah mati,

Namun Tuhan, tidakkah ingin Engkau keringkan pipi ini,

dan namun, Tuhan tak mengizinkan aku mencabuti lukamu, 

Ku kira salah apa aku, 

Ternyata kita hanya orang baru,

Baru disekat waktu, berubah dari waktu ke waktu.

Ku kira nanti aku jadi pohon yang mati terbakar,

Kemana-mana ku diterbangkan,

Lalu ku endap, tanah.

Ku melayang, udara.

Kujumpai segala, dan kau tak dapat menolak aku yang tak berbentuk.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toba

 Batu besar. Menghitung sisa-sisa waktu sambil membangun tembok pertahanan, dipersimpangan kau teroesir, ketepian kau berada, menyeruput kopi dipinggir Toba, Samosir pula kau cari ditengah, kayuhkan dayung, seot menyeot dayungku lapuk, layarku kisut, menyeruput kopi, kailku tak goyah, megaku muram lalu hilang. 03 01 2021

Dunia

  Siapa yang merenggut seyummu itu? Manis namun getir Siapa yang kau beri cahayamu? Kilau di matamu kian temaram Dunia, aku ingin memberimu yang terbaik Dunia, kau renggut yang terbaik Dunia, sekarang berikan aku yang terindah . 05-05-23

Sejauh mana

Sejauh mana manusia bisa pergi, Sedalam mana manusia bisa mencintai, Sedalam kau berfikir lalu terbakar dan habis. Sambil tersenyum dia mati. Dalam ketiadaan dia bersarang, Hingga tiada batas, antara yang nyata dan fana Seluas yang tiada batas. 09 09 2021